Garut, 6 April 2026 — Peristiwa yang dialami seorang pasien anak di Kampung Cibalubur, Desa Bungbulang, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, memicu kekecewaan dan pertanyaan serius dari warga terkait kualitas pelayanan kesehatan, khususnya bagi pengguna BPJS Kesehatan.

JABARKAN.ID | ᮏᮘᮛ᮪ᮊᮔ᮪ Menjabarkan untuk Semua Cekas: Cekatan, Sigap, Terpercaya

 

Pasien bernama Rifki (11), anak kedua dari pasangan Riswandi dan Risma Rita, harus menahan rasa sakit berjam-jam tanpa mendapatkan penanganan medis, meskipun telah terdaftar sebagai pasien di salah satu klinik setempat sejak siang hari.

 

Menurut keterangan keluarga, Rifki pertama kali dibawa ke klinik sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, pasien diterima oleh perawat dan langsung didaftarkan menggunakan BPJS. Namun, harapan untuk segera mendapatkan pemeriksaan pupus setelah diketahui dokter yang bertugas belum berada di lokasi.

 

Perawat yang berjaga menyampaikan bahwa dokter masih dalam perjalanan menggunakan kendaraan umum dan tidak dapat dihubungi. Keluarga kemudian diberikan pilihan: menunggu tanpa kepastian atau kembali ke rumah.

 

Karena tidak ada kejelasan waktu kedatangan dokter, pihak keluarga akhirnya memilih membawa pulang Rifki.

 

Namun kondisi anak tidak membaik. Sekitar pukul 16.00 WIB, orang tua kembali membawa Rifki ke klinik dengan harapan kali ini dokter sudah tersedia. Kenyataannya, situasi belum berubah—dokter masih belum tiba dan tetap tidak dapat dihubungi.

 

Waktu terus berjalan. Rasa sakit yang dialami Rifki semakin parah. Tangisan tak terbendung. Orang tua hanya bisa menunggu dengan cemas, berharap ada penanganan segera.

 

Hingga menjelang Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB, dokter yang ditunggu tak kunjung datang.

Baca Juga  Keluarga Besar Media JABARKAN KABIRO Garut Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

 

Dalam kondisi tersebut, perawat justru menyarankan agar pasien dibawa ke tenaga medis lain, yakni dr. Desi, yang praktik di Kampung Citalahab—lokasi yang berjarak cukup jauh dari Kampung Cibalubur.

 

Saran tersebut memicu kebingungan sekaligus kekecewaan dari pihak keluarga.

 

“Anak kami sudah tidak kuat menahan sakit, sampai menangis terus. Kenapa harus disuruh ke tempat lain? Di sini ada klinik, tapi tidak ada dokter. Kami ini harus bagaimana?” ungkap keluarga dengan nada kecewa.

 

Bagi warga, kondisi ini terasa ironis. Di satu sisi, fasilitas kesehatan tersedia di kampung sendiri, namun di sisi lain, pelayanan yang diharapkan justru tidak dapat diakses saat dibutuhkan.

 

Lebih jauh, peristiwa ini memunculkan dugaan di tengah masyarakat terkait adanya perbedaan perlakuan terhadap pasien pengguna BPJS dan pasien umum. Beberapa warga mempertanyakan apakah pelayanan akan berbeda jika pasien datang tanpa menggunakan BPJS.

 

“Kalau pasien umum, apakah tetap disuruh menunggu selama ini? Atau dokter akan lebih cepat datang?” menjadi pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan warga.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak klinik terkait ketidakhadiran dokter, sistem layanan, maupun mekanisme penanganan pasien dalam kondisi darurat.

 

Peristiwa ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di wilayah pelosok, terutama terkait ketersediaan tenaga medis dan kepastian layanan bagi pasien.

 

Warga berharap adanya evaluasi serius dari pihak terkait, baik pengelola fasilitas kesehatan maupun instansi berwenang, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

 

Sebab bagi masyarakat kecil, layanan kesehatan bukan sekadar prosedur administratif—melainkan soal keselamatan nyawa.

 

Narasumber

Riswandi