Malangbong Garut – Menjelang musim panen, masyarakat adat Sunda masih melestarikan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Mitemeyan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan para petani sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang mulai terlihat dan harapan akan panen yang melimpah.

JABARKAN.ID | ᮏᮘᮛ᮪ᮊᮔ᮪ Menjabarkan untuk Semua Cekas: Cekatan, Sigap, Terpercaya

Dalam pelaksanaannya, Mitemeyan dilakukan langsung di area persawahan. Warga berkumpul sambil membawa berbagai bekal makanan dari rumah masing-masing. Suasana kebersamaan begitu terasa saat para petani duduk bersama di pematang sawah, menikmati hidangan sederhana dalam kegiatan makan bersama atau bebekelan.

Tak hanya sekadar makan bersama, tradisi ini juga diisi dengan doa bersama. Para petani memanjatkan harapan agar hasil panen yang akan datang diberikan kelancaran, dijauhkan dari hama dan bencana, serta membawa keberkahan bagi seluruh warga.

Baca juga: Ajang Silaturahmi Terbesar, Ratusan Komunitas Meriahkan Halal Bihalal Sagara

Tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa tradisi Mitemeyan bukan hanya ritual adat, tetapi juga sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Selain itu, kegiatan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya Sunda tidak hilang. Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur, Mitemeyan terus menjadi simbol kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. ( Red )

Berita terkait: DPRD Garut Angkat Bicara Soal Keresahan Guru PPPK Terkait Anggaran

Simak juga: Kaulinan Lolorian, Hiburan Tradisional Sunda yang Tetap Digemari di Malangbong

Fingerprint: JABARKAN-1716
Baca Juga  Semangat Kemanusiaan, PMI Malangbong Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis