KOTA BANDUNG, 20 April 2026 — Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas global yang lahir dari Kota Bandung, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis budaya.
JABARKAN.ID | ᮏᮘᮛ᮪ᮊᮔ᮪ Menjabarkan untuk Semua Cekas: Cekatan, Sigap, Terpercaya
KAA dan Peran Strategis Indonesia di Dunia
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Konferensi Asia Afrika merupakan tonggak besar dalam sejarah diplomasi dunia. Menurutnya, KAA telah menempatkan Indonesia sebagai penghubung strategis antara negara-negara Asia dan Afrika.
“Konferensi Asia Afrika ini adalah satu tonggak sejarah yang sangat besar dalam diplomasi kita dan menjadikan Bandung sebagai pusat pertemuan bangsa Asia dan Afrika,” ujar Fadli Zon saat menghadiri peringatan di Hotel Savoy Homann, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: Konferensi Asia Afrika 1955: Bandung Jadi Simbol Dunia
Ia menilai, semangat yang lahir dari KAA tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berkembang.
Bandung sebagai Simbol Diplomasi Dunia
Bandung kembali ditegaskan sebagai kota bersejarah yang memiliki peran penting dalam membangun hubungan internasional. Tidak hanya sebagai lokasi konferensi, Bandung juga menjadi simbol persatuan negara-negara berkembang.
Berita terkait: Ajang Silaturahmi Terbesar, Ratusan Komunitas Meriahkan Halal Bihalal Sagara
Momentum peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak hanya dibangun melalui kekuatan politik, tetapi juga melalui nilai-nilai kemanusiaan dan kerja sama.
Budaya sebagai Soft Power Pemersatu
Selain aspek diplomasi, Fadli Zon menyoroti pentingnya budaya sebagai kekuatan lunak atau soft power dalam membangun hubungan antarbangsa.
Menurutnya, budaya memiliki peran strategis dalam menjembatani perbedaan yang kerap menjadi sumber konflik.
Kesamaan Budaya Asia-Afrika
Fadli menjelaskan bahwa negara-negara Asia dan Afrika memiliki banyak kesamaan budaya yang dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun solidaritas global.
“Budaya adalah soft power, kekuatan yang mampu menjadi jembatan ketika politik seringkali menimbulkan konflik dan perpecahan,” katanya.
Kesamaan tersebut dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan berkelanjutan antarnegara.
Dokumentasi Sejarah untuk Generasi Mendatang
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga menekankan pentingnya pelestarian sejarah Konferensi Asia Afrika.
Ia bahkan berencana membuka koleksi foto KAA yang dimilikinya sebagai domain publik agar dapat diakses oleh masyarakat luas.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat memahami dan mengambil pelajaran dari peristiwa bersejarah tersebut.
Upaya Bandung Menuju Warisan Dunia UNESCO
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk menghidupkan kembali kawasan Asia Afrika sebagai pusat sejarah dunia.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengajukan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai kandidat warisan dunia UNESCO.
Target Masuk Kandidat UNESCO
“Kami sedang mengajukan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai kawasan warisan dunia dengan target dalam empat tahun ke depan bisa masuk kandidat UNESCO,” ujar Farhan.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pengakuan global terhadap nilai sejarah Bandung sekaligus mendorong sektor pariwisata.
Event Berkelanjutan untuk Daya Tarik Global
Farhan menegaskan bahwa kawasan Asia Afrika tidak boleh dibiarkan sepi. Oleh karena itu, berbagai event akan digelar secara berkelanjutan mulai April hingga Juli.
“Kawasan ini tidak boleh sepi, harus terus dihidupkan dengan berbagai event agar memiliki nilai tambah dan daya tarik global,” katanya.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas budaya, pelaku pariwisata, dan generasi muda.
Revitalisasi Infrastruktur Kawasan Bersejarah
Selain pengembangan event, Pemerintah Kota Bandung juga tengah menyiapkan penataan infrastruktur secara menyeluruh.
Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas kawasan bersejarah tersebut.
Perbaikan Fasilitas Publik
Beberapa program yang direncanakan meliputi perbaikan jalan, pembangunan trotoar ramah disabilitas, serta peningkatan fasilitas umum lainnya.
Revitalisasi ini diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Optimalisasi Gedung Bersejarah
Selain itu, sejumlah gedung bersejarah yang belum dimanfaatkan secara optimal juga akan direvitalisasi.
Langkah ini tidak hanya bertujuan melestarikan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi kawasan sebagai pusat aktivitas budaya dan ekonomi.
Relevansi KAA di Tengah Tantangan Global
Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang lahir dari Bandung masih sangat relevan hingga saat ini.
Di tengah meningkatnya konflik global dan ketegangan geopolitik, semangat solidaritas dan kerja sama menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dunia.
Inspirasi bagi Generasi Masa Kini
KAA tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi masa kini.
Nilai-nilai seperti persatuan, toleransi, dan dialog harus terus dijaga agar dunia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih damai.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga relevan dalam percaturan global modern.
FAQ KAA 71 Tahun (SEO Schema)
Apa itu KAA 71 tahun?
KAA 71 tahun adalah peringatan Konferensi Asia Afrika yang pertama kali digelar pada 1955 di Bandung.
Apa peran budaya dalam KAA?
Budaya berfungsi sebagai soft power yang mampu menyatukan negara Asia-Afrika dan meredam konflik global.
Apa rencana Pemkot Bandung?
Pemkot Bandung mengusulkan kawasan Asia Afrika sebagai warisan dunia UNESCO dan mengembangkan event global.
Mengapa KAA masih relevan?
Karena nilai solidaritas, perdamaian, dan kerja sama internasional masih dibutuhkan hingga saat ini.
Simak juga: Tradisi Mitemeyan, Wujud Syukur Petani Sunda Menjelang Panen








