KOTA BANDUNG, 20 April 2026 — Tepat 71 tahun lalu, Kota Bandung menjadi pusat perhatian dunia saat Konferensi Asia Afrika digelar pada 18–24 April 1955, mempertemukan 29 negara untuk membangun solidaritas melawan kolonialisme, meredakan ketegangan Perang Dingin, serta mendorong perdamaian global melalui kerja sama internasional.
JABARKAN.ID | ᮏᮘᮛ᮪ᮊᮔ᮪ Menjabarkan untuk Semua Cekas: Cekatan, Sigap, Terpercaya
Latar Belakang Konferensi Asia Afrika
Konferensi Asia Afrika lahir dari situasi global yang penuh ketegangan pasca Perang Dunia II. Meski perang telah usai pada 1945, banyak negara di Asia dan Afrika masih berada di bawah penjajahan.
Selain itu, dunia terbelah dalam dua kekuatan besar, yakni Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Kondisi ini memicu konflik geopolitik dan perlombaan senjata nuklir.
Baca juga: Kawasan Asia Afrika Diusulkan Jadi Warisan Dunia UNESCO
Di tengah situasi tersebut, muncul kesadaran dari negara-negara Asia untuk membangun solidaritas bersama. Gagasan awal konferensi ini muncul dalam pertemuan di Kolombo pada 1954.
Peran Indonesia dalam Inisiasi KAA
Indonesia memainkan peran kunci dalam terwujudnya konferensi ini. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan forum yang lebih luas yang melibatkan negara Asia dan Afrika.
Berita terkait: PSEL Bandung Disepakati, 800 Ton Sampah Jadi Energi
Usulan tersebut mendapat dukungan kuat dari Presiden Soekarno, yang sejak awal memperjuangkan persatuan negara-negara bekas jajahan.
Kesepakatan penting kemudian dicapai dalam pertemuan di Bogor yang menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah dan Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan.
Persiapan Besar di Kota Bandung
Menjelang pelaksanaan konferensi, Kota Bandung melakukan berbagai persiapan intensif. Gedung Merdeka dipilih sebagai lokasi utama sidang.
Selain itu, sejumlah fasilitas pendukung disiapkan, seperti penginapan di Hotel Homann dan Hotel Preanger, serta sarana transportasi dan keamanan.
Bandung pun berbenah secara menyeluruh untuk menyambut ribuan delegasi dari berbagai negara.
Antusiasme Masyarakat dan “Langkah Bersejarah”
Pada 18 April 1955, suasana Bandung dipenuhi antusiasme masyarakat. Ribuan warga memadati Jalan Asia Afrika untuk menyaksikan kedatangan para delegasi.
Para perwakilan negara berjalan kaki menuju Gedung Merdeka dalam momen yang dikenal sebagai “Langkah Bersejarah”.
Kehangatan sambutan masyarakat menjadi simbol kuat solidaritas dan harapan akan dunia yang lebih damai.
Pembukaan dan Pidato Bersejarah Soekarno
Konferensi dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno. Dalam pidatonya yang terkenal, “Let a New Asia and a New Africa be Born”, ia menegaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan.
Pidato tersebut menyoroti kesamaan pengalaman negara peserta yang pernah dijajah serta cita-cita bersama untuk merdeka dan damai.
Pesan tersebut mendapat sambutan luas dan menjadi simbol kebangkitan negara berkembang.
Hasil Utama: Dasasila Bandung
Selama konferensi berlangsung, berbagai isu penting dibahas, termasuk kerja sama ekonomi, budaya, politik, dan keamanan.
Meski sempat terjadi perbedaan pandangan, seluruh peserta mampu mencapai kesepakatan melalui dialog dan musyawarah.
Sepuluh Prinsip Perdamaian Dunia
Konferensi menghasilkan Dasasila Bandung, yaitu sepuluh prinsip dasar yang menekankan:
- Penghormatan terhadap hak asasi manusia
- Kedaulatan dan integritas wilayah negara
- Persamaan derajat antar bangsa
- Penyelesaian konflik secara damai
Dasasila Bandung menjadi tonggak penting dalam hubungan internasional dan menginspirasi terbentuknya Gerakan Non-Blok.
Warisan KAA bagi Dunia
Konferensi Asia Afrika menunjukkan bahwa negara berkembang mampu bersatu dan berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi juga simbol kekuatan solidaritas global.
Hingga kini, Gedung Merdeka dan kawasan Jalan Asia Afrika tetap menjadi saksi sejarah penting yang mengingatkan dunia akan semangat persatuan tersebut.
Simak juga: Teras Cihampelas Dievaluasi, Tunggu Izin KPK









Comment